Translate

Tampilkan postingan dengan label Uniquely Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uniquely Bali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2012

Perang Tipat Bantal (9 Oktober 2012)

Bali memang selalu punya cerita, ini adalah salah satu upacara unik yang ada di Bali. 

Sumber artikel : http://indonesia.travel/id/travelers-stories-detail/%5Cs%20/77/ribuan-ketupat-bertebaran-di-udara

Ribuan Ketupat Bertebaran di Udara

Desa Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung adalah salah satu desa adat di Bali yang kaya akan keunikan adat dan budayanya. Setiap tahunnya digelar sebuah tradisi yang unik dan menarik yang masih berlangsung hingga sekarang. Tradisi tersebut adalah Aci Rah Pengangonatau lebih dikenal dengan Perang Ketupat atau Perang Tipat yang dilakukan masyarakat setempat khususnya laki-laki.
Perang Tipat ini berlangsung secara turun temurun dan dilaksanakan di depan Pura Desa Lan Puseh Desa Adat Kapal, Mengwi. Sama halnya dengan ritual adat lainnya, sebelum perang masyarakat desa berkumpul di pura dimana diawali dengan proses sembahyang bersama oleh seluruh warga desa setempat.
Menurut tradisi, Perang Tipat ini dilakukan setiap Purnama Kapat atau pada saat purnama bulan ke empat dalam penanggalan Bali sekitar bulan September-Oktober dan pelaksanaannya diwujudkan dalam berupa tipat dan tipat bantal/semacam ketupat.

Ketua Karang Taruna Desa Adat Kapal, Nyoman Sukataya, mengatakan ada 12 biji tipat dan bantal masing-masing dari 200 KK, 18 banjar yang ada di Kecamatan Mengwi, diperkirakan ada 12.000 jiwa atau penduduk. “Total keseluruhan ada sekitar 43.000 tipat dan tipat bantal,” ujarnya.
Usai sembahyang, perang pertama dilakukan di dalam pura terlebih dahulu dan pindah ke jalanan di depan pura kurang lebih selama 20 menit dan jalan ditutup sementara selama perang berlangsung dan sempat membuat macet arah Denpasar-Gilimanuk.

Perang tipat terbagi dalam dua kelompok yaitu utara dan selatan dimana keduanya saling melempar atau menyerang kubu lawan dengan tipat dan tipat bantal dan mencoba mempertemukannya di udara. Tidak hanya peserta saja yang menjadi korban, penonton bahkan fotografer yang mengabadikan momen pun juga korban. Tidak ada kata istilah dendam dalam perang ini.
Klian Desa Adat Kapal, A.A Gede Dharmayasa, menjelaskan tradisi perang tipat dan tipat bantal ini erat kaitannya dengan kehidupan pertanian masyarakat.
“Perang tipat berarti bentuk rasa terima kasih kepada Sang Hyang Widhi atas berlimpahnya hasil panen di desa ini,” terangnya.
Setelah perang berakhir, para peserta membersihkan sisa-sisa dari perang dan dikumpulkan menjadi satu. “Sisa-sisa yang sudah terkumpul kemudian diambil dan ditaburkan ke sawah pendudu di desa adat Kapal,” tegasnya. (Ultimo Paradiso)

Selasa, 11 September 2012

Learn More about Subak




Subak Jadi Roh Kebudayaan Bali 
http:/nasional.kompas.com/read/2012/07/06/05320859/Subak.Jadi.Roh.Kebudayaan.Bali

Denpasar, Kompas - Subak adalah roh sekaligus identitas kebudayaan Bali. Penetapan subak di Bali sebagai situs warisan budaya dunia diharapkan mendorong pelestarian dan perlindungan tradisi itu di Bali.

Demikian mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih seusai seminar ketahanan pangan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III, Denpasar, Kamis (5/7). Bungaran menyambut baik penetapan subak sebagai situs warisan budaya dunia.


Menurut Bungaran, subak adalah warisan budaya yang sudah berumur panjang dan masih bertahan sampai saat ini. ”Subak itu bentuk kearifan lokal, dan menjadi warisan budaya masyarakat Bali. Situasi sudah banyak berubah, konteks juga sudah berubah, karena itu, subak juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa harus meninggalkan rohnya,” kata Menteri Pertanian periode 2001– 2004 itu.

Selain menyangkut pertanian, subak juga merupakan sistem budaya sehingga perlu keterlibatan ahli-ahli budaya dalam upaya pelestariannya. Termasuk, perlu sinergi dengan pariwisata dan modernisasi di Bali. ”Karena itu, perlu pemikiran ahli-ahli kebudayaan agar subak tak kehilangan identitasnya,” ujarnya.

Subak ditetapkan sebagai situs warisan budaya dunia pada sidang Komite Warisan Dunia ke-36 UNESCO di Rusia, Jumat (29/6). Penetapan itu sekaligus pengakuan subak sebagai budaya asli Indonesia (Kompas, 30/6).

Wayan Windia, Ketua Grup Riset Sistem Subak Universitas Udayana menyebutkan, sawah di Bali mulai dibangun sejak abad ke-9 dan sistem subak mulai ada tahun 1072. Sawah dan subak merupakan bagian dari kebudayaan Bali yang perlu diperkuat dan diberdayakan. Namun, ada tantangan serius, yakni peralihan fungsi lahan sawah. Dalam tahun 2005-2009, luas lahan sawah di Bali menyusut 5.000 hektar menjadi 82.644 hektar. (COK)

Workshop singkat mengenai Subak nanti akan dibawakan oleh Guru Besar Subak Dr. Ir. I Wayan Windia, pada tanggal 20 Oktober 2012. Sosok Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana yang sederhana dan pembawaannya yang santai akan mengisi kegiatan trekking yang berlokasi di Jatiluwih menjadi semakin bermakna. Bagi mereka yang memandang Bali sebagai salah satu tempat tujuan wisata kelas dunia, sudah pasti tertarik akan kontur alamnya yang terkesan "celestial" dengan hamparan sawah terasering yang khas. Apa yang membuat Bali unik? Anda akan dapatkan jawabannya di workshop singkat seputar SUBAK nanti. Perdalam pengetahuan Anda tentang Bali, bergabunglah bersama kami di CSIF2012!





Cultural Landscape of Bali Province: The  Subak  System as a Manifestation of the  Tri Hita Karana  Philosophy



200 Students from Across Indonesia Learn about the Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy
200 Students from Across Indonesia Learn about the Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy

DG3.jpg

Senin, 13 Agustus 2012

Tentang Ritual Matur Piuning

Matur piuning adalah ritual melakukan persembahyangan memohon restu atau dalam istilah Jawanya adalah kulonuwun untuk  kelancaran acara dan keselamatan selama acara berlangsung. Dalam rangkaian acara CSIF 2012 ini, matur piuning merupakan simbol dimulainya acara secara spirit, sebelum dilakukannya welcoming ceremony pada tanggal 19 Oktober nanti. Ritual ini ada pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan upacara pensucian atau awal dari suatu kegiatan dan dilakukan menurut penanggalan Bali, yang memperhitungkan baik buruknya suatu hari tertentu ketika hendak memilih hari berlangsungnya suatu kegiatan. Upacara matur piuning dalam CSIF 2012 ini akan dilakukan di  Pura Ulun Danu, Kintamani. Ulun danu atau hulu danau dalam bahasa Indonesia, adalah pusat dari sistem irigasi dan sumber air masyarakat di Bali. Keberadaan pura ini sangat penting peranannya bagi mereka yg hidup dari bercocok tanam. Sebelum panen atau memulai bercocok tanam, biasanya masyarakat Bali dari seluruh penjuru datang ke Pura Ulun Danu untuk berdoa dan meminta tirta (air suci) yang telah diberkati.


sumber : http://dadiapasekpundukdawa.blogspot.com/2012/06/album-foto-matur-piuning-lan-macaru.html